| Foto, ilustrasi. Kisah tentang sapi betina yang menilai tersimpan pelajaran besar. (Surah Al-Baqarah ayat 67-73) |
Queensha.id - Edukasi Islam,
Surah Al-Baqarah merupakan surah terpanjang dalam Al-Qur’an. Namun menariknya, nama surah ini justru diambil dari sebuah kisah yang secara kuantitas hanya menempati beberapa ayat, yakni ayat 67–73 tentang sapi betina. Di balik kisah tersebut, para ulama menilai tersimpan pelajaran besar tentang ketaatan, sikap hati, dan bahaya membantah perintah Allah SWT.
Al-Baqarah, yang berarti sapi betina, merujuk pada perintah Allah kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi sebagai jalan mengungkap kasus pembunuhan misterius. Perintah yang sejatinya sederhana itu justru berubah menjadi rumit karena sikap mereka sendiri yang banyak bertanya, berbelit-belit, dan enggan tunduk secara total.
Perintah Sederhana yang Dipersulit
Kisah ini bermula dari terbunuhnya seorang lelaki kaya dari Bani Israil tanpa diketahui pelakunya. Ketegangan pun muncul hingga hampir menimbulkan pertumpahan darah. Kasus itu akhirnya dibawa kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, yang kemudian menyampaikan perintah Allah agar mereka menyembelih seekor sapi betina.
Alih-alih taat, mereka justru menuduh Nabi Musa mengejek. Ketika diyakinkan bahwa perintah itu benar-benar datang dari Allah, mereka tidak langsung melaksanakannya, melainkan terus mengajukan pertanyaan: umur sapi, warnanya, hingga fungsi sapi tersebut. Setiap pertanyaan justru membuat syarat sapi semakin sempit dan sulit dicari.
Hingga akhirnya, setelah sapi yang sangat langka dan mahal itu disembelih, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Dengan memukul jasad korban menggunakan sebagian tubuh sapi tersebut, mayat itu hidup kembali dan mengungkap pelaku pembunuhan, sebelum akhirnya wafat kembali.
Pandangan Ulama Indonesia: Kritik atas Sikap Hati
Ulama besar Indonesia, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa penamaan Al-Baqarah bukan semata karena kisah sapi, melainkan sebagai simbol kedegilan hati dan pembangkangan tersembunyi.
“Bani Israil bukan tidak mampu melaksanakan perintah Allah, tetapi hati mereka penuh perlawanan. Perintah yang mudah mereka jadikan sulit karena tidak ikhlas tunduk,” tulis Buya Hamka.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa kisah Al-Baqarah adalah peringatan keras bagi umat Islam agar tidak terjebak pada pola berpikir yang sama.
“Banyak bertanya bukan tanda kecerdasan bila tujuannya menghindari kewajiban. Ketaatan yang sejati adalah mendengar dan patuh sebelum mempertanyakan,” jelas Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah.
Sementara itu, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menyoroti sisi spiritual kisah ini. Menurutnya, Allah sebenarnya sedang “mendidik” umat manusia tentang adab kepada perintah Tuhan.
“Kalau Allah sudah memerintah, jangan sibuk mencari celah untuk menghindar. Bani Israil itu bukan bodoh, tapi terlalu pintar sampai lupa taat,” ujar Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.
Pelajaran Abadi dari Surah Al-Baqarah
Para ulama sepakat bahwa kisah sapi betina ini dijadikan nama surah karena mengandung pesan universal dan lintas zaman. Allah SWT ingin mengingatkan bahwa ketaatan tidak diukur dari banyaknya argumen, tetapi dari kesiapan hati menerima perintah-Nya.
Surah Al-Baqarah pun menjadi cermin bagi umat Islam hari ini. Ketika perintah Allah terasa berat, sering kali bukan karena perintah itu sulit, melainkan karena hati yang enggan tunduk. Dari kisah ini, umat diajak untuk tidak mengulangi kesalahan Bani Israil: mempersulit agama dengan perdebatan, hingga kehilangan ruh ketaatan itu sendiri.
Sebagaimana ditegaskan para ulama, Al-Baqarah adalah surah pendidikan hati—mengajarkan bahwa iman sejati lahir dari kepatuhan, bukan perlawanan terselubung.
***
Tim Redaksi.