Notification

×

Iklan

Iklan

Merasa Paling Bertanggung Jawab, Lalu Melupakan Allah SWT: Ketika Kesombongan dan Keputusasaan Menjauhkan Sholat

Minggu, 11 Januari 2026 | 10.38 WIB Last Updated 2026-01-11T03:39:47Z
Foto, ilustrasi. Protes lalu memohon kepada Allah SWT tentang kehidupan sosial.



Queensha.id - Edukasi Islam,


Banyak orang mengaku beriman, percaya kepada Allah SWT, bahkan gemar menasihati orang lain tentang kebaikan. Namun di balik itu, sholat lima waktu justru ditinggalkan. 


Fenomena ini kerap muncul pada mereka yang merasa telah menjadi kepala rumah tangga, merasa sebagai “pejabat” dalam keluarganya, merasa mampu mencari uang, mengatur kehidupan dunia, tetapi perlahan melupakan kewajiban paling mendasar dalam Islam.


Sebagian merasa dirinya pintar, bermental kuat, berani menghadapi siapa pun, dan merasa cukup berbuat baik kepada sesama manusia. Ada pula yang merasa pernah sholat, pernah berdoa, namun hidupnya tetap pas-pasan. 


Doa tak kunjung dikabulkan, ekonomi tak membaik, lalu muncul pertanyaan sinis dalam hati: “Untuk apa sholat lima waktu kalau hidup tidak bisa kaya?”


Di sisi lain, ada yang merasa sangat berat mencari nafkah. Hidup di bawah tekanan kebutuhan, tanggung jawab keluarga, dan tuntutan sosial membuat sholat dianggap beban tambahan. Perlahan ditinggalkan, lalu dibenarkan dengan dalih kelelahan, logika, bahkan keberanian.


Namun, bagaimana Islam memandang sikap seperti ini?


Pandangan Islam: Antara Kesombongan Tersembunyi dan Putus Asa yang Berbahaya

Dalam Islam, sholat bukanlah alat tukar untuk kekayaan dunia. Sholat adalah bentuk penghambaan, pengakuan bahwa manusia—sekuat apa pun, sepintar apa pun—tetap makhluk yang lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT.


Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”


Merasa mampu mengatur hidup tanpa sholat termasuk bentuk kesombongan batin (kibr khafi) yaitu kesombongan yang tidak selalu terlihat, tetapi menggerogoti iman. Sementara merasa putus asa karena hidup tidak kaya lalu meninggalkan sholat termasuk keputusasaan terhadap rahmat Allah, yang dalam Islam justru lebih berbahaya daripada kemiskinan itu sendiri.


Islam menegaskan bahwa rezeki bukan ukuran cinta Allah, dan kesulitan hidup bukan tanda doa ditolak. Bisa jadi doa dikabulkan dengan cara lain: ditunda, diganti, atau diselamatkan dari keburukan yang lebih besar.


Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia

Sejumlah ulama besar Indonesia telah lama mengingatkan fenomena ini. KH. Ahmad Dahlan menekankan bahwa sholat adalah fondasi peradaban akhlak. Tanpa sholat, kebaikan sosial mudah berubah menjadi kesombongan moral.
KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa meninggalkan sholat karena urusan dunia adalah tanda dunia telah menguasai hati, bukan sekadar kelalaian fisik.


Sementara Buya Hamka pernah menyampaikan bahwa orang yang merasa doanya tidak dikabulkan sejatinya sedang menilai Allah dengan logika manusia. Padahal, menurut beliau, “Allah tidak pernah ingkar janji, manusialah yang sering keliru memahami jawaban-Nya.”


Ulama kontemporer seperti KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) juga kerap menegaskan bahwa beratnya hidup bukan alasan meninggalkan sholat, justru sholatlah yang seharusnya menjadi tempat paling jujur untuk mengeluh dan berserah.


Antara Berani di Dunia, Takut Tunduk kepada Tuhan

Keberanian menghadapi manusia, kerasnya mental, dan kekuatan logika tidak otomatis bernilai di hadapan Allah jika tidak disertai ketaatan. Dalam Islam, keberanian sejati bukanlah berani melawan dunia, melainkan berani merendahkan diri di hadapan Tuhan.


Sholat bukan milik orang kaya, bukan pula hadiah bagi hidup yang sukses. Sholat adalah kewajiban orang beriman yang baik saat lapang maupun sempit.


Ketika sholat ditinggalkan karena merasa cukup, di situlah iman sedang diuji. Dan ketika sholat ditinggalkan karena putus asa, di situlah harapan sedang runtuh.


***
Tim Redaksi.