Notification

×

Iklan

Iklan

Nikmat Dicabut Baru Bersujud: Ketika Manusia Terlambat Mengingat Allah

Rabu, 21 Januari 2026 | 10.43 WIB Last Updated 2026-01-21T03:44:44Z
Foto, ilustrasi gambaran seseorang muslim yang berdoa, mengingat Allah SWT ketika sudah terlambat.



Queensha.id - Edukasi Islam,


Ia dulu selalu berkata, “Masih ada waktu.”
Waktu untuk sholat nanti. Waktu untuk taubat nanti. Waktu untuk benar-benar mengingat Allah itu nanti.


Saat sehat, ia menunda sujud. Saat harta mengalir, ia lupa bersyukur. Saat keluarga lengkap, ia merasa semua akan abadi.


Padahal, Allah tidak pernah menunda nikmat-Nya. 


Nikmat yang Dianggap Hak, Bukan Amanah

Banyak manusia menjalani hidup dengan satu kesalahan mendasar yakni menganggap nikmat sebagai hal biasa. Napas dirasa otomatis. Kesehatan dianggap wajar. Rezeki disangka hasil usaha semata.


Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa salah satu bentuk kelalaian terbesar manusia adalah (ghurur) yaitu tertipu oleh kenyamanan.


“Nikmat sering kali menjadi hijab antara manusia dan Allah. Bukan karena nikmat itu buruk, tapi karena manusia lupa bersyukur,” jelasnya.


Allah sendiri mengingatkan:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)


Namun ironi itu nyata yaitu manusia baru menghitung nikmat setelah satu saja dicabut.


Saat Allah Mulai Mengambil yakni Teguran yang Sering Disalahpahami

Awalnya tidak terasa sebagai azab.
Tidur gelisah. Hati kosong. Pikiran penuh kecemasan tanpa sebab. Lalu menyusul yang lebih berat yaitu sakit, kegagalan, kehilangan orang tercinta.


Menurut KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), banyak orang keliru menilai musibah.


“Tidak semua nikmat itu rahmat, dan tidak semua musibah itu azab. Kadang musibah justru cara Allah menyelamatkan iman seseorang,” tuturnya, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (21/1/2026).


Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)


Masalahnya, perubahan sering baru terjadi ketika hidup sudah terhimpit.


Doa yang Datang Terlambat

Di atas ranjang sakit, doa menjadi lirih dan putus-putus. “Ya Allah… andai aku diberi satu kesempatan lagi.”


Namun waktu tidak bisa ditawar.
Buya Yahya mengingatkan bahwa doa paling mahal adalah doa sebelum kehilangan.


“Allah mencintai hamba yang berdoa saat lapang. Sebab doa di saat sempit sering kali lahir dari keterpaksaan, bukan cinta,” tuturnya.


Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh hari:

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara…” (HR. Al-Hakim)


Namun banyak manusia menunda hingga satu perkara itu benar-benar hilang.


Bukan Karena Allah Benci

Ulama sepakat, Allah tidak serta-merta mencabut nikmat karena murka. Sering kali, itu adalah bentuk peringatan terakhir.
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyebutnya sebagai alarm ruhani.


“Kalau hidup terasa sempit, mungkin bukan dunia yang sempit, tapi hati kita yang menjauh dari Allah,” ujarnya, dari berbagai sumber.


Masalahnya, tidak semua orang kembali. Ada yang justru semakin keras, menyalahkan takdir, lalu lupa bahwa sebelumnya ia sendiri yang lalai.

Renungan untuk Kita Hari Ini

Jika hari ini kita masih bernapas—itu nikmat. Jika hari ini kita masih bisa sujud maka itu anugerah.

Jika hati masih tersentuh oleh peringatan maka itu tanda kasih sayang Allah.


Allah berfirman:

“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)


Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk: Apakah kita ingin menjadi hamba yang bersyukur saat nikmat masih ada, atau hamba yang menyesal saat nikmat telah diambil?


Para ulama sepakat pada satu pesan:
Ingatlah Allah sebelum kehilangan, karena setelah itu yang tersisa hanyalah penyesalan.


Semoga kita termasuk orang yang bersujud sebelum dipaksa, bersyukur sebelum dicabut, dan ingat sebelum terlambat.
Aamiin.


***
Tim Redaksi.