Notification

×

Iklan

Iklan

Paman Nabi yang Dilaknat, Abu Lahab dan Akhir Tragis Kesombongan

Minggu, 04 Januari 2026 | 19.15 WIB Last Updated 2026-01-04T12:16:48Z
Foto, tangkap layar dari cuplikan film. Pemeran Abu Lahab.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Hubungan darah tak selalu berbanding lurus dengan kebenaran. Dalam sejarah Islam, satu nama menjadi contoh paling telanjang tentang hal itu yaitu Abu Lahab. Ia adalah paman kandung Rasulullah SAW, namun justru tercatat sebagai musuh paling keras dakwah tauhid hingga namanya diabadikan Al-Qur’an sebagai simbol kebinasaan.


Nama aslinya ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib. Julukan Abu Lahab (yang berarti Bapak Api) awalnya merujuk pada wajahnya yang kemerahan. Namun sejarah membuktikan, julukan itu kelak menjelma makna hakiki: api kesombongan yang menyeretnya ke kehinaan dunia dan ancaman neraka.


Permusuhan Terbuka Sejak Dakwah Dimulai

Permusuhan Abu Lahab muncul sejak detik awal dakwah Islam disuarakan. Saat Rasulullah SAW mengumpulkan kaum Quraisy di Bukit Shafa dan menyeru mereka kepada tauhid, Abu Lahab justru menjadi orang pertama yang mencela.


“Celaka engkau wahai Muhammad! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Ucapan kasar itu bukan sekadar hinaan personal. Ia adalah simbol penolakan terhadap kebenaran. Dan sebagai jawabannya, wahyu pun turun.


“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.”
(QS. Al-Lahab: 1)


Surah Al-Lahab menjadi satu-satunya surat dalam Al-Qur’an yang menyebut nama musuh Islam secara langsung, bahkan mengabarkan kebinasaannya saat ia masih hidup sebuah tantangan terbuka yang tak pernah mampu dibantah Abu Lahab hingga ajal menjemput.


Pasangan dalam Kejahatan

Permusuhan Abu Lahab tak berdiri sendiri. Istrinya, Ummu Jamil, turut menjadi bagian dari barisan pembenci dakwah. Ia dikenal kerap:


1. Menyebarkan duri di jalan yang dilewati Rasulullah SAW.

2. Menghina dan memfitnah Nabi.

3. Menghasut masyarakat agar membenci Islam.


Al-Qur’an menyebutnya sebagai “pembawa kayu bakar”, metafora bagi penyulut api kebencian dan fitnah yang tak pernah padam.


Harta dan Status Tak Jadi Tameng

Sebagai bangsawan Quraisy, Abu Lahab memiliki harta, pengaruh, dan kedudukan. Namun semua itu tak membuatnya rendah hati justru menjadi penghalang terbesar untuk menerima kebenaran.


“Harta bendanya dan apa yang ia usahakan tidaklah berguna baginya.”
(QS. Al-Lahab: 2)


Penolakannya bukan karena kebodohan, melainkan kesombongan dan ketakutan kehilangan status sosial.


Akhir yang Menghinakan

Beberapa hari setelah kekalahan telak Quraisy di Perang Badar—kabar yang membuatnya marah dan tertekan—Abu Lahab terserang penyakit kulit menular yang menjijikkan (‘adasah).


Ia meninggal dalam kondisi tragis:

1. Dijauhi keluarganya sendiri.

2. Tak ada yang berani menyentuh jasadnya.

3. Mayatnya dibiarkan membusuk berhari-hari.

4. Dikubur dengan cara didorong menggunakan kayu dari kejauhan.


Sosok terpandang Quraisy itu mati tanpa kehormatan, tepat seperti yang diwartakan wahyu.


Pelajaran Iman dari Abu Lahab
Kisah Abu Lahab menyisakan pelajaran tajam bagi setiap generasi:


1. Hubungan darah tidak menjamin keselamatan.

2. Kesombongan dapat menutup hati dari kebenaran.

3. Memusuhi dakwah Allah adalah jalan kebinasaan.

Al-Qur’an adalah wahyu—karena Abu Lahab hidup bertahun-tahun setelah Surah Al-Lahab turun, namun tak pernah mampu membantahnya, bahkan dengan pura-pura beriman.


Abu Lahab memiliki nama besar, keluarga mulia, dan kekayaan. Namun semua itu runtuh karena satu penyakit hati: kesombongan.


Dan sejarah pun mencatat, musuh kebenaran boleh berteriak sekeras apa pun namun wahyu selalu menang dengan cara yang paling sunyi dan paling pasti.


***
Tim Redaksi.