Queensha.id - Edukasi Islam,
Setiap hari, dunia menyaksikan kematian tanpa jeda. Rumah sakit, jalan raya, medan bencana, masjid, hingga istana yang semuanya menjadi saksi bahwa ajal tidak mengenal tempat, usia, atau status. Pertanyaan yang kerap muncul di benak manusia pun sama: bagaimana mungkin Malaikat Maut mencabut jutaan nyawa dalam satu waktu?
Al-Qur’an telah lebih dulu menjawab kegelisahan itu.
“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian, kemudian kepada Tuhanmulah kalian akan dikembalikan.”
(QS. As-Sajdah: 11)
Bukan Makhluk yang Terikat Ruang dan Waktu
Kesalahan mendasar manusia adalah mengukur malaikat dengan logika manusia. Malaikat Maut tidak bekerja seperti kita tidak lelah, tidak terbatas jarak, dan tidak bergantung waktu. Ia diciptakan Allah dengan kemampuan yang berada di luar jangkauan nalar manusia.
Ajal setiap makhluk telah ditetapkan. Detik terakhir, tarikan napas terakhir, bahkan tempat wafat semuanya tertulis rapi di Lauhul Mahfuz. Tak bisa dimajukan, tak bisa ditunda.
Satu Waktu, Banyak Perpisahan
Dalam satu detik yang sama:
1. Seorang bayi mengembuskan napas terakhir di ruang NICU.
2. Seorang pemuda meregang nyawa di tengah bencana alam.
Seorang ayah wafat di atas sajadah.
Seorang penguasa meninggal di istananya. Tak ada antrean. Tak ada penundaan. Tak ada yang saling menunggu.
Malaikat Maut Tidak Bekerja Sendirian
Para ulama menjelaskan bahwa Malaikat Maut memiliki para pembantu dari kalangan malaikat. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.” (QS. Al-An’am: 61).
Malaikat Maut memimpin, sementara para malaikat pembantu menjalankan perintah Allah di seluruh penjuru bumi. Tidak ada ruh yang tertukar. Tidak ada kesalahan alamat. Tidak ada keterlambatan.
Lembut bagi yang Beriman, Keras bagi yang Ingkar
Hadis dan penjelasan para ulama menggambarkan perbedaan cara dicabutnya ruh:
1. Orang beriman: ruh dicabut dengan lembut, seperti air yang menetes dari bejana. Wajahnya tenang, hatinya dipenuhi kabar gembira.
2. Orang ingkar dan durhaka: ruh dicabut dengan keras, seperti besi berduri yang ditarik dari kapas basah menyakitkan dan penuh penyesalan.
Semua terjadi adil. Semua terjadi tepat waktu. Semua atas izin Allah.
Pertanyaan yang Lebih Penting
Maka persoalannya bukan lagi “bagaimana Malaikat Maut mampu mencabut banyak nyawa sekaligus?”
Melainkan:
“Dalam keadaan apa nyawa kita akan dicabut?”
Karena Malaikat Maut tidak pernah datang terlalu cepat, dan tidak pernah datang terlambat.
Ia datang tepat ketika manusia merasa masih punya waktu kecuali bagi mereka yang selalu bersiap.
Kematian bukan akhir berita, melainkan awal pertanggungjawaban. Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khatimah, bukan dalam kelalaian, bukan dalam dosa yang belum disesali.
Aamiin.
***
Tim Redaksi.