Queensha.id — Edukasi Islam,
Sejarah keimanan tidak hanya ditulis oleh para nabi dan raja, tetapi juga oleh seorang ibu sederhana bernama Mashitah. Di tengah kekuasaan Fir‘aun yang memaksa manusia menyembahnya sebagai tuhan, Mashitah justru menorehkan salah satu kisah tauhid paling menggetarkan sepanjang zaman yakni satu keluarga direbus hidup-hidup, namun iman mereka tak pernah mendidih apalagi runtuh.
Mashitah bukan ulama, bukan bangsawan, bukan pemimpin pasukan. Ia hanyalah pelayan istana yang menyisir rambut putri Fir‘aun. Namun dari lisannya meluncur satu kalimat kecil yang mengguncang singgasana kekuasaan: “Bismillāh.”
Kalimat itu membuka tabir keyakinan yang selama ini tersembunyi bahwa di balik gemerlap istana, ada iman yang lebih kokoh daripada kekuasaan absolut.
Ketika Tauhid Berhadapan dengan Tirani
Fir‘aun memahami satu hal: tauhid adalah ancaman paling berbahaya bagi tirani. Karena itu, Mashitah tidak sekadar dihukum mati, tetapi diuji dengan cara paling kejam yaitu melalui anak-anaknya sendiri.
Satu per satu anak Mashitah dilemparkan ke dalam air mendidih. Bukan untuk membunuh semata, melainkan untuk mematahkan iman seorang ibu. Namun sejarah mencatat, setiap jeritan anak justru memperkuat tauhidnya.
Puncaknya adalah saat bayinya yang masih menyusu itu berbicara atas izin Allah, menegaskan bahwa ibunya berada di atas kebenaran. Di titik itulah Fir‘aun benar-benar kalah, bukan oleh senjata, tetapi oleh keyakinan.
Pandangan Ulama Indonesia: Simbol Keteguhan Tauhid
Para ulama terkemuka di Indonesia kerap menjadikan kisah Mashitah sebagai simbol tertinggi keteguhan iman dalam kondisi paling ekstrem.
Ulama tafsir dan pendakwah nasional menegaskan bahwa Mashitah bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan cermin ujian iman. Jika iman masih bisa ditukar demi keselamatan dunia, maka itu bukan iman yang matang. Kisah ini menunjukkan bahwa iman sejati justru tampak ketika taruhannya adalah nyawa dan keluarga.
Sebagian ulama menekankan bahwa penderitaan Mashitah bukanlah kegagalan, melainkan kemuliaan spiritual. Dalam logika dunia, ia kalah dan hancur. Namun dalam logika langit, ia menang mutlak karena dibuktikan dengan hadis tentang harum surga yang dicium Rasulullah ﷺ saat Isra’ Mi‘raj.
Ulama lain melihat kisah ini sebagai peringatan keras bagi penguasa zalim. Fir‘aun memiliki segalanya yaitu kekuasaan, tentara, istana namun namanya diabadikan sebagai simbol kehinaan. Sementara Mashitah, seorang pelayan tanpa nama besar, diabadikan sebagai syuhada langit.
Pesan untuk Zaman Sekarang
Kisah Mashitah relevan hingga hari ini. Ketika iman sering diuji bukan dengan api dan kuali, tetapi dengan jabatan, uang, tekanan sosial, dan rasa aman palsu, Mashitah mengingatkan bahwa:
Iman tidak selalu diuji dengan kemiskinan, tetapi sering dengan ketakutan kehilangan.
Tauhid bukan sekadar ucapan, melainkan pilihan paling mahal dalam hidup.
Kemenangan sejati tidak selalu tampak di dunia.
Mashitah dan anak-anaknya memang direbus hidup-hidup.
Namun Fir‘aunlah yang sejatinya hancur karena oleh iman yang tak bisa direbus, tak bisa dibakar, dan tak bisa dibunuh.
***
(Ditulis ulang oleh Queensha Jepara, Rabu (21/1/2026)