Queensha.id - Jakarta,
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melontarkan peringatan keras mengenai kondisi geopolitik global yang dinilainya berada di fase paling berbahaya sejak berakhirnya Perang Dunia II. Melalui unggahan di akun media sosial X, SBY menyebut dunia saat ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan dan memiliki banyak kemiripan dengan situasi menjelang Perang Dunia I dan II.
Menurut SBY, eskalasi konflik global tidak lagi bersifat lokal atau regional, melainkan telah membentuk pola sistemik yang saling terhubung. Munculnya pemimpin-pemimpin kuat dengan kecenderungan agresif, terbentuknya blok-blok kekuatan global yang saling berhadap-hadapan, hingga perlombaan senjata berskala besar menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan.
“Ini bukan sekadar kekhawatiran kosong. Risiko Perang Dunia Ketiga itu nyata, meski masih bisa dicegah,” tulis SBY, dikutip dari unggahan akun Twitter X, Minggu (18/1/2026).
Perang Nuklir dan Ancaman Runtuhnya Peradaban
SBY secara khusus menyoroti dampak kehancuran yang akan terjadi jika perang dunia maka terlebih dengan penggunaan senjata nuklir yang bisa benar-benar pecah. Ia merujuk berbagai kajian ilmiah yang menyebut potensi korban jiwa bisa mencapai miliaran manusia, disertai kehancuran lingkungan global, krisis pangan, dan runtuhnya tatanan peradaban.
Dalam konteks ini, SBY menegaskan bahwa doa dan harapan saja tidak cukup. Dunia, kata dia, membutuhkan langkah nyata, terukur, dan kolektif untuk menghentikan laju eskalasi konflik sebelum mencapai titik tanpa kembali.
PBB Diminta Gelar Sidang Umum Darurat
Sebagai jalan keluar, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar Sidang Umum Darurat, dengan agenda utama mempertemukan para pemimpin dunia guna merumuskan langkah konkret pencegahan konflik global.
Meski mengakui bahwa efektivitas dan kewenangan PBB kerap dipertanyakan dalam beberapa konflik besar, SBY menilai pembiaran justru akan menjadi noda hitam dalam sejarah umat manusia.
“Kalau orang-orang baik diam, yang jahat akan menang,” tulis SBY, mengutip pesan moral yang menegaskan pentingnya keberanian kolektif.
Peringatan dari Seorang Negarawan
Pernyataan SBY bukan datang dari figur sembarangan. Sebagai mantan presiden dan tokoh yang lama berkecimpung di panggung diplomasi internasional, pandangannya mencerminkan kegelisahan seorang negarawan yang menyaksikan langsung dinamika geopolitik global selama dua dekade terakhir.
Peringatan ini sekaligus menjadi refleksi bagi dunia internasional yakni apakah sistem global saat ini masih mampu menahan ego kekuatan besar, atau justru sedang melaju menuju konflik terbesar dalam sejarah umat manusia.
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, pesan SBY menjadi pengingat keras bahwa perang dunia bukan takdir yang pasti, melainkan ancaman yang hanya bisa dicegah jika dunia memilih untuk bertindak hingga sekarang, bukan nanti.
***