Notification

×

Iklan

Iklan

Suami Modal Janji, Istri Jadi Tulang Punggung: Mengapa Lelaki Seperti Ini Tetap Bertahan di Sekitar Kita?

Senin, 26 Januari 2026 | 22.32 WIB Last Updated 2026-01-26T15:33:33Z
Foto, ilustrasi. Suami pengangguran dan istri menuntut hak tanggung jawab.


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Di media sosial, sebuah ilustrasi bertajuk “Suami Mokondo, Modal Burung Doang” mendadak ramai dibicarakan. Isinya bukan sekadar sindiran, melainkan potret getir realitas rumah tangga yang (disadari atau tidak) masih sering kita jumpai di sekitar kita.


Ilustrasi tersebut menggambarkan sosok suami yang tidak memiliki penghasilan tetap, minim tanggung jawab, banyak alasan, namun tetap menuntut dilayani. Nafkah, urusan rumah, hingga masa depan anak seolah dibebankan sepenuhnya kepada istri. Ironisnya, ketika dituntut berubah, ia justru mudah tersinggung, memainkan peran korban, bahkan menuduh istrinya tidak bersyukur.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang kerap terucap lirih di masyarakat yaitu,


“Lelaki seperti itu memang ada di sekitar kita, tapi kok bisa ya istrinya betah?”


Realitas yang Tak Selalu Hitam-Putih
Dalam banyak kasus, “kebetahan” istri bukanlah tanda kenyamanan. Ia sering lahir dari keterpaksaan: demi anak, tekanan sosial, rasa kasihan, harapan perubahan, atau ketakutan dicap gagal berumah tangga. Di masyarakat kita, perempuan masih sering dibebani stigma jika memilih bersuara atau pergi.


Sementara itu, sebagian laki-laki tumbuh dalam budaya yang keliru memaknai kepemimpinan rumah tangga: merasa berhak dihormati tanpa memberi teladan, ingin dilayani tanpa mau berjuang.


Pandangan Ulama: Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Status

Ulama terkemuka Indonesia, KH. Quraish Shihab, dalam berbagai penjelasannya menegaskan bahwa kepemimpinan suami dalam Islam bukanlah keistimewaan kosong, melainkan amanah berat.


Qiwamah (kepemimpinan suami) bukan karena jenis kelamin, tetapi karena tanggung jawab dan kemampuan memberi perlindungan, nafkah, serta keteladanan.”


Artinya, ketika seorang suami tidak menjalankan kewajiban dasarnya terutama usaha memberi nafkah sesuai kemampuannya maka ia sedang mengkhianati amanah, bukan sedang diuji kesabarannya semata.


Hal senada juga disampaikan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Ia kerap menekankan bahwa agama tidak membenarkan kemalasan yang dibungkus dalih takdir atau “masih proses”.


“Tawakal itu setelah ikhtiar. Kalau tidak kerja tapi minta dimengerti, itu bukan tawakal, itu malas.”


Menurut Gus Baha, lelaki yang sehat fisik dan akal namun enggan berusaha, lalu menggantungkan hidup pada istri atau orang tua, tidak sedang bersabar melainkan sedang lari dari tanggung jawab.


Ketika Agama Dipakai untuk Membungkam

Yang lebih berbahaya, sebagian suami menggunakan potongan dalil tentang “istri harus patuh” untuk menutupi kegagalannya menjalankan peran. Padahal, para ulama sepakat: ketaatan istri tidak berdiri di atas kezaliman suami.
Islam tidak pernah mengajarkan perempuan untuk setia pada ketidakadilan.


Refleksi Sosial

Fenomena “suami minim peran” bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan cermin masalah sosial: pendidikan karakter, budaya patriarki yang timpang, dan normalisasi kemalasan laki-laki atas nama ego.


Masyarakat perlu berhenti menertawakan isu ini sebagai candaan semata. Karena di balik ilustrasi satir dan istilah viral, ada perempuan yang lelah, anak-anak yang tumbuh tanpa teladan, dan rumah tangga yang bertahan bukan karena bahagia melainkan karena tidak punya pilihan.


Pada akhirnya, menjadi suami bukan soal status, apalagi gengsi. Ia tentang tanggung jawab, keberanian berusaha, dan kerendahan hati untuk berubah. Tanpa itu semua, yang tersisa hanyalah janji dan istri yang dipaksa kuat sendirian.


***
Tim Redaksi.