Ungkapan “Surga di bawah kaki ibu” kerap digaungkan di mimbar, ditulis di poster, dan dibagikan di media sosial. Kalimat ini terasa menenangkan, seolah memberi jaminan: menjadi ibu berarti otomatis dekat dengan surga.
Namun para ulama mengingatkan, pemahaman seperti itu justru berbahaya bila tidak diluruskan. Rasulullah SAW memang bersabda, “Surga itu di bawah kaki ibu” (HR. Ahmad, An-Nasa’i). Tetapi para ulama sepakat, hadits ini bukanlah kartu bebas hisab, melainkan penegasan tentang jalan besar menuju surga melalui bakti anak, bukan status otomatis bagi setiap ibu.
Bukan Jaminan, Melainkan Jalan
Quraish Shihab berulang kali menegaskan dalam berbagai kajiannya bahwa Islam tidak mengenal keselamatan karena status sosial atau hubungan darah. Surga, kata beliau, adalah buah iman dan amal. Kedudukan ibu sangat mulia, tetapi kemuliaan itu tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Luqman ayat 15: ketika orang tua mengajak kepada kemusyrikan, anak dilarang taat, namun tetap diperintahkan bergaul dengan baik. Ayat ini, menurut Quraish Shihab, menunjukkan keseimbangan Islam: bakti tanpa menabrak akidah.
Ketika Ibu Menjadi Ujian
Buya Yahya dalam sejumlah ceramahnya menyampaikan bahwa tidak semua orang tua otomatis menjadi sebab keselamatan anak. Ada orang tua termasuk ibu yang justru menjadi ujian iman. Mengajak kepada kebencian, kedzaliman, membuka jalan maksiat, atau menghalangi ibadah.
Dalam kondisi seperti itu, kata Buya Yahya, Islam tidak membenarkan durhaka, tetapi juga tidak mengizinkan maksiat atas nama bakti. Anak tetap wajib hormat, lembut, merawat, dan mendoakan. Namun ketaatan tetap berhenti ketika perintah orang tua bertabrakan dengan perintah Allah. Inilah bentuk bakti yang paling berat sekaligus paling bernilai.
Status Ibu Bukan Jaminan Surga
Gus Baha sering mengingatkan dengan bahasa sederhana namun menusuk yaitu:
“Kalau hubungan darah otomatis menyelamatkan, Abu Lahab pasti masuk surga.” Bahkan Rasulullah SAW menegaskan kepada putrinya, Fathimah, bahwa beliau tidak bisa menyelamatkannya dari azab Allah tanpa iman dan amal.
Menurut Gus Baha, keistimewaan ibu adalah peluang pahala yang sangat besar, bukan jaminan tanpa syarat. Seorang ibu tetap akan dihisab atas shalatnya, lisannya, kezalimannya, serta cara ia mendidik anak. Anak saleh bisa menjadi pahala yang terus mengalir, tetapi anak yang rusak karena didikan yang salah juga bisa menjadi beban hisab.
Kemuliaan Ibu Tetap Tak Tertandingi
Meski demikian, para ulama sepakat: tidak ada manusia yang dimuliakan Islam seperti ibu. Rasulullah SAW menempatkan ibu tiga kali lebih utama daripada ayah dalam urusan bakti. Sebab pengorbanannya tidak terhitung yaitu mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat dengan tubuh dan jiwa.
Buya Yahya menyebut ibu sebagai “madrasah pertama.” Jika madrasah ini baik, besar kemungkinan lahir generasi yang baik. Jika rusak, kerusakannya bisa panjang hingga lintas generasi.
Renungan untuk Zaman Sekarang
Bagi anak, pesan para ulama jelas: berbaktilah sebelum terlambat. Jangan menunggu ibu tiada untuk menyesal. Satu doa tulus dan satu sikap lembut bisa bernilai lebih berat daripada gunung amal yang lain.
Bagi ibu, peringatannya juga tegas: anak bukan sekadar kebanggaan dunia, tetapi amanah akhirat. Didikan yang menanam iman akan menjadi cahaya di kubur. Didikan yang menanam maksiat bisa menjadi penyesalan abadi.
Surga memang di bawah kaki ibu. Namun kaki itu harus melangkah di jalan iman dan ketaatan. Dan anak yang paling beruntung adalah mereka yang saling menarik satu sama lain menuju surga: ibu dengan didikannya, anak dengan baktinya.
***
Tim Redaksi.