| Foto, ditemukannya Axsyal Rendy Saputra yang tak bernyawa. (Foto: 30 November 2025). |
Kasus kematian tragis seorang pemuda asal Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Sudah 85 hari berlalu sejak jasad Axsyal Rendy Saputra ditemukan tak bernyawa di area persawahan, namun penyebab pasti kematiannya belum juga terungkap.
Peristiwa yang menggegerkan masyarakat Bumi Kartini itu terus menjadi perhatian publik karena kondisi luka korban dinilai tidak lazim dan memunculkan berbagai spekulasi.
Ditemukan Dekat Rumah dengan Luka Ekstrem
Korban ditemukan meninggal dunia pada 30 November 2025 di area rerumputan sawah yang berjarak sekitar 60–150 meter dari belakang rumahnya di Desa Tubanan.
Kondisi tubuh korban saat ditemukan memicu kejanggalan. Pada bagian leher terdapat luka sepanjang 13 sentimeter dengan lebar sekitar 6 sentimeter yang memutus pembuluh nadi dan saluran tenggorokan.
Selain itu, ditemukan pula luka sayatan sepanjang 6 sentimeter di pergelangan tangan kiri serta luka iris dangkal pada bagian dada.
Hasil autopsi dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Jawa Tengah menyatakan korban meninggal akibat pendarahan hebat dari luka di leher.
Namun hingga kini, aparat kepolisian belum dapat memastikan apakah luka tersebut akibat tindakan orang lain atau dilakukan sendiri oleh korban.
Dugaan Bunuh Diri Dipertanyakan Publik
Munculnya dugaan bunuh diri justru memicu perdebatan luas di tengah masyarakat. Banyak warga menilai secara logika sulit menerima seseorang mampu melukai lehernya sendiri dengan tingkat keparahan seperti yang ditemukan pada korban.
Spekulasi publik semakin berkembang karena sejumlah fakta di lokasi kejadian dinilai tidak biasa.
Pisau yang ditemukan di tempat kejadian perkara dilaporkan tidak menunjukkan sidik jari. Selain itu, hasil pemeriksaan kuku korban juga negatif, serta minim saksi mata meski lokasi penemuan relatif dekat dengan permukiman warga.
Polisi Gunakan Scientific Crime Investigation
Kasatreskrim Polres Jepara, M Faizal Wildan Umar, menegaskan pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut dan belum akan mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa.
“Kami belum bisa mengambil kesimpulan. Kami harus lebih berhati-hati. Kasus ini tetap menjadi prioritas kami,” tegasnya, Senin (23/2/2026).
Saat ini penyidik menempuh metode Scientific Crime Investigation, yakni pengungkapan kasus berbasis analisis ilmiah.
Polisi melibatkan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia untuk membedah profil psikologis korban serta menelusuri kemungkinan motif di balik kematian tersebut.
Selain itu, pemeriksaan Laboratorium Forensik juga dilakukan terhadap data digital dari telepon genggam korban guna menelusuri komunikasi terakhir sebelum kejadian.
Kasus Masih Menjadi Teka-Teki
Minimnya bukti langsung, tidak ditemukannya sidik jari, serta karakter luka yang ekstrem membuat proses penyelidikan menjadi kompleks.
Hingga kini, misteri kematian Axsyal Rendy Saputra masih menyisakan pertanyaan besar yaitu apakah ini kasus bunuh diri yang tidak biasa, kecelakaan tragis, atau justru tindak kriminal yang belum terungkap.
Masyarakat Jepara pun berharap aparat penegak hukum mampu mengungkap fakta sebenarnya agar keluarga korban mendapatkan kepastian hukum dan rasa keadilan.
***
Tim Redaksi.