Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Mahasiswi Jadi Ratu Kalinyamat: Dwi Yunita Aviliani Hidupkan Spirit Baratan di Kriyan Jepara

Selasa, 10 Februari 2026 | 09.48 WIB Last Updated 2026-02-10T02:52:59Z
Foto, pemeran Ratu Kalinyamat 2026, Dwi Yunita Aviliani, asal kecamatan Kalinyamatan, Jepara.

Queensha.id — Jepara,


Tradisi Baratan kembali menggema di Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Ribuan warga memadati kawasan Masjid Al-Makmur, Desa Kriyan, pada Minggu malam (8/2/2026) untuk mengikuti kirab budaya tahunan yang sarat nilai sejarah dan religius. Di tengah kemeriahan itu, sosok yang paling mencuri perhatian adalah Dwi Yunita Aviliani, perempuan muda asal Kecamatan Kalinyamatan yang memerankan Ratu Kalinyamat dalam Pesta Baratan tahun 2026 ini.

Yunita, kelahiran 9 Juni 2004, terpilih memerankan tokoh ikonik Jepara tersebut setelah melalui serangkaian seleksi ketat. Ia sebelumnya mengikuti audisi bersama puluhan pendaftar lain dan harus menjalani berbagai tahapan tes, mulai dari tes tulis, wawancara lisan, hingga kemampuan membaca dan menulis Alquran.


“Waktu itu (2025) ada sekitar 40 pendaftar. Mungkin dari beberapa tes tersebut saya termasuk kriteria yang dicari, maka saya terpilih menjadi pemeran Ratu Kalinyamat 2025 dalam tradisi Baratan,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (21/2).


Tak hanya kemampuan akademik dan religius, penilaian juga mencakup postur tubuh, cara berjalan, hingga karakter wajah yang dinilai mampu merepresentasikan figur Ratu Kalinyamat. Yunita mengaku sempat merasa kurang percaya diri saat mengikuti seleksi, namun dukungan keluarga membuatnya berani melangkah.


“Perasaan awal saat dipilih tentu senang dan bangga, tapi juga kaget. Saya sempat insecure, tapi keluarga terus mendukung,” tuturnya.


Dalam kirab Baratan, Yunita tampil mengenakan busana kerajaan lengkap, didampingi dayang-dayang dan diarak bersama gunungan hasil bumi. Prosesi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus pengingat akan sejarah Ratu Kalinyamat sebagai tokoh perempuan tangguh yang menjadi kebanggaan Jepara.


Sebelum tampil pada hari puncak, Yunita menjalani persiapan khusus yang tak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Ia melakukan puasa, ziarah ke kompleks Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan, hingga mengikuti prosesi ruwatan dan mandi kembang yang dipandu tokoh masyarakat setempat.


“Sebelum acara dimulai saya diwajibkan mandi kembang dan diruwat oleh salah satu dewan juri sekaligus tokoh masyarakat, Gus Amar. Semua itu bagian dari persiapan agar bisa menjalankan peran dengan khidmat,” jelasnya.


Mahasiswi semester enam jurusan Bimbingan Konseling Islam di IAIN Kudus ini bukan sosok baru dalam tradisi tersebut. Pada 2018, ia pernah terlibat sebagai prajurit dalam kirab Ratu Kalinyamat. Kecintaannya terhadap sejarah dan budaya Jepara membuatnya terus aktif dalam kegiatan pelestarian tradisi.


Tradisi Baratan di Desa Kriyan sendiri digelar sebagai bagian dari penyambutan bulan Syaban, penanda semakin dekatnya Ramadan. Sejak pukul 19.00 WIB, warga telah memadati lokasi untuk menyaksikan kirab yang menampilkan lakon Ratu Kalinyamat menuju titik penyerahan Banyu Kahuripan (air kehidupan). 


Setelah doa bersama, tokoh Ratu Kalinyamat menaiki kereta kencana dan berkeliling desa disambut antusias masyarakat.


Kirab dibuka barisan sapu jagat, diikuti dayang-dayang, penari tradisional, tokoh agama, serta anak-anak yang membawa lampu impes. Gunungan berisi hasil bumi dan puli turut diarak sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat.


Bagi Yunita, peran Ratu Kalinyamat bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan amanah untuk menjaga warisan sejarah. Ia berharap generasi muda Jepara terus melestarikan tradisi dan meneladani keberanian sang ratu.


“Mengingat Ratu Kalinyamat adalah sosok yang berani dan tegas, generasi muda patut meneladani keberanian dan ketegasannya dalam mengambil keputusan dan menghadapi permasalahan,” pungkasnya.


Kehadiran generasi muda seperti Dwi Yunita Aviliani dalam tradisi Baratan menjadi bukti bahwa nilai sejarah, budaya, dan religiusitas masih hidup di tengah masyarakat Jepara. Tradisi tahunan ini bukan sekadar seremoni, tetapi ruang pewarisan identitas dan kebanggaan daerah yang terus dijaga lintas generasi.


***
Tim Redaksi.