Notification

×

Iklan

Iklan

Dewasa Bukan Soal Usia, Tapi Kendali Diri: Ketika Tenang, Tanggung Jawab, dan Akhirat Jadi Prioritas

Senin, 02 Februari 2026 | 09.05 WIB Last Updated 2026-02-02T02:15:13Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Ida Yuliatin.


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Di tengah budaya pamer, kegaduhan media sosial, dan standar bahagia yang kerap diukur dari validasi publik, muncul sebuah refleksi sederhana namun menghunjam: tanda kedewasaan justru sering disalahpahami sebagai kesepian, kekakuan, atau ketertinggalan zaman.


Fenomena “betah di rumah”, berpakaian sederhana, hingga enggan berlebihan menampilkan diri di media sosial kini kerap dialami banyak orang. Bukan karena anti-sosial atau tak percaya diri, melainkan karena ada pergeseran orientasi hidup yakni mulai dari pencitraan menuju ketenangan, dari pengakuan menuju makna.


Dalam kacamata para ulama terkemuka di Indonesia, kedewasaan sejatinya bukan diukur dari usia biologis, melainkan kematangan akal, stabilitas emosi, dan kejernihan tujuan hidup.


Dewasa Menurut Ulama: Akal yang Menuntun Nafsu

Ulama kharismatik Indonesia kerap menegaskan bahwa kedewasaan adalah saat akal memimpin, bukan hawa nafsu. Ketika seseorang mulai berpikir sebelum bertindak, memilih diam daripada memperkeruh keadaan, dan lebih sibuk memperbaiki diri ketimbang menilai orang lain, di situlah tanda kedewasaan bekerja.


Dalam Islam, sikap ini dikenal sebagai ḥilm atau kemampuan menahan diri, bersabar, dan bersikap proporsional. Bukan lemah, justru kuat. Bukan pasif, tetapi bijak.


Overthinking yang Berubah Arah

Jika di masa muda overthinking kerap berkutat pada urusan cinta dan pengakuan, maka kedewasaan menggeser kegelisahan itu pada hal yang lebih substansial yaitu masa depan, tanggung jawab keluarga, amanah pekerjaan, hingga nasib di akhirat.


Para ulama memandang kegelisahan semacam ini sebagai tanda hidupnya hati. Selama tidak berujung putus asa, kegelisahan itu justru menjadi rem moral yang menuntun manusia agar lebih berhati-hati dalam melangkah.


Kesederhanaan sebagai Cermin Kedalaman

Berpakaian “itu-itu saja” dan enggan hidup berlebihan juga bukan tanda kemiskinan ambisi. Dalam pandangan keislaman, kesederhanaan adalah ekspresi kecukupan jiwa. Ketika seseorang tak lagi terobsesi tampil lebih dari yang diperlukan, itu menandakan ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.


Insecure yang Menyelamatkan

Menariknya, rasa insecure dalam fase dewasa justru bergeser arah. Bukan lagi pada fisik atau popularitas, tetapi pada ketaatan dan kedekatan dengan Allah SWT. Ulama menyebut ini sebagai khauf yang sehat rasa takut yang membangun, bukan melumpuhkan.


Takut tertinggal dalam amal, takut lalai dalam tanggung jawab, dan takut hidup tanpa arah akhirat. Inilah kecemasan yang justru menyelamatkan manusia dari kesombongan.


Bertumbuh, Bukan Tertinggal

Maka ketika seseorang merasa tak lagi nyaman dengan hiruk-pikuk yang kosong, mulai selektif dalam bersikap, dan lebih menjaga hati daripada citra, para ulama sepakat: itu bukan kemunduran, melainkan pertumbuhan.


Dewasa bukan tentang menjadi serius sepanjang waktu, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti, kapan melanjutkan, dan ke mana semua ini bermuara.


***
Tim Redaksi.