Notification

×

Iklan

Iklan

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Fenomena Langit Picu Diskusi Metode Hisab dan Ru’yatul Hilal

Selasa, 24 Februari 2026 | 11.42 WIB Last Updated 2026-02-24T04:45:22Z
Foto, Gerhana bulan total, (28 Juli 2018).


Queensha.id — Jakarta,


Fenomena astronomi langka berupa gerhana bulan total diprediksi terjadi pada Selasa malam Rabu, 3 Maret 2026. Peristiwa langit ini tidak hanya menarik perhatian para pengamat astronomi, tetapi juga kembali memunculkan diskusi klasik di kalangan umat Islam mengenai metode penentuan kalender Hijriyah, khususnya antara pendekatan hisab dan ru’yatul hilal.


Gerhana bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan. Dalam kondisi ini, Bulan tidak menghilang, melainkan tampak berwarna merah tembaga akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.


Dalam kajian astronomi, fase bulan purnama biasanya terjadi sekitar 14,77 hari setelah konjungsi atau ijtimak. Posisi tersebut sering disebut sebagai pertengahan bulan lunar.


Hisab dan Ru’yatul Hilal Kembali Dibahas

Peristiwa gerhana kali ini bertepatan dengan pertengahan bulan Ramadan bagi sebagian umat Islam. Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriyah kembali menjadi bahan perbincangan.


Metode hisab, yakni perhitungan astronomi matematis, menetapkan awal bulan berdasarkan posisi geometris Bulan dan Matahari. Sementara metode ru’yatul hilal mengacu pada pengamatan langsung hilal atau bulan sabit pertama setelah matahari terbenam.


Menurut kajian dalam Ilmu Falak, satu siklus bulan sinodik rata-rata berlangsung sekitar 29,53 hari. Karena itu, kalender Hijriyah secara syar’i hanya mengenal jumlah hari 29 atau 30 hari dalam satu bulan.


Perbedaan metode kadang membuat pertengahan Ramadan jatuh pada tanggal yang tidak sama. Namun para ahli falak menegaskan bahwa perbedaan tersebut bukanlah kesalahan, melainkan konsekuensi dari pendekatan metodologis yang berbeda dalam memahami dalil dan observasi astronomi.


Perspektif Ulama dan Astronomi

Dalam praktik keagamaan di Indonesia, pendekatan hisab dan rukyat selama ini berjalan berdampingan. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya menggabungkan data hisab dengan hasil rukyat dalam sidang isbat untuk menentukan awal bulan Hijriyah secara nasional.


Para ulama menekankan bahwa tujuan utama penetapan kalender Islam adalah menjaga kesatuan ibadah umat, bukan mempertentangkan metode.


Gerhana bulan total sendiri tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa Ramadan. Fenomena tersebut justru menjadi momentum ibadah, karena dalam tradisi Islam dianjurkan melaksanakan salat gerhana (khusuf) sebagai bentuk refleksi spiritual atas tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.


Fenomena Langit dan Refleksi Keimanan

Selain menjadi objek kajian astronomi, gerhana bulan total kerap dipandang sebagai pengingat hubungan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Langit menghadirkan keteraturan kosmik yang dapat dipelajari secara ilmiah sekaligus direnungkan secara keagamaan.


Fenomena 3 Maret 2026 diperkirakan dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia apabila kondisi cuaca cerah. Masyarakat diimbau menikmati peristiwa ini secara ilmiah dan bijak, serta tidak menjadikannya sumber perpecahan, melainkan ruang dialog antara sains dan keyakinan.


***
Tim Redaksi.