Notification

×

Iklan

Iklan

Kenapa Perempuan Paling Suka Bakso? Ini Penjelasan Psikologis dan Pandangan Pengamat Sosial Jepara

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12.47 WIB Last Updated 2026-02-21T05:55:05Z
Foto, perempuan di Indonesia cenderung lebih menyukai kuliner Indonesia, Bakso.





Pertanyaan ini sering muncul di obrolan santai hingga media sosial: kenapa banyak perempuan terlihat begitu menyukai bakso? Dari pelajar hingga ibu rumah tangga, dari nongkrong sore sampai jajan tengah malam, semangkuk bakso kerap jadi pilihan utama.


Fenomena ini bukan sekadar stereotip. Di berbagai sudut kota, mulai warung kaki lima hingga gerai modern, pembeli perempuan tampak mendominasi antrean. Lalu, apa sebenarnya yang membuat bakso begitu lekat dengan selera perempuan?


1. Comfort Food yang Menghadirkan Rasa Aman

Secara psikologis, bakso masuk kategori comfort food merupakan makanan yang memberi rasa nyaman secara emosional. Kuah hangat, aroma kaldu, tekstur kenyal bakso, hingga tambahan sambal dan kecap menciptakan pengalaman makan yang komplet.


Banyak perempuan mengaitkan makanan hangat dengan rasa tenang dan perasaan “dirawat”. Apalagi saat cuaca dingin atau sedang lelah, semangkuk bakso terasa seperti pelukan sederhana.


2. Fleksibel dan Mudah Disesuaikan

Bakso juga fleksibel. Mau pedas, bisa tambah sambal. Mau ringan, cukup kuah bening tanpa gorengan. Mau kenyang maksimal, tinggal tambah mie, bihun, atau pangsit.

Fleksibilitas ini memberi ruang bagi perempuan untuk menyesuaikan dengan mood dan kebutuhan. Tidak terlalu berat seperti makanan bersantan, tapi tetap mengenyangkan.


3. Sosial dan Estetis

Di era media sosial, bakso punya nilai visual. Uap kuah panas, taburan bawang goreng, hingga bakso beranak yang unik sering jadi konten foto atau video.


Makan bakso juga identik dengan momen kebersamaan: nongkrong bareng teman, arisan, atau sekadar quality time. Ada unsur sosial yang membuat pengalaman makan terasa lebih hangat.


Pandangan Pengamat Sosial Jepara

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena ini bukan soal jenis kelamin semata, tetapi soal budaya konsumsi.


Menurutnya, bakso di Jawa, termasuk Jepara, bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari ruang interaksi sosial.


“Di kota-kota kecil seperti Jepara, warung bakso adalah ruang aman dan netral. Perempuan merasa nyaman makan di sana karena tidak terkesan eksklusif atau mahal. Ini berbeda dengan kafe atau restoran tertentu yang kadang membawa tekanan sosial,” jelasnya, Sabtu (21/2).


Ia juga menambahkan bahwa bakso memiliki citra “makanan rakyat” yang tidak mengintimidasi. Harga relatif terjangkau membuat perempuan dari berbagai latar belakang ekonomi bisa menikmati tanpa rasa sungkan.


Faktor Emosional dan Budaya

Dalam kultur Jawa, makanan berkuah hangat sering dikaitkan dengan perhatian dan kehangatan keluarga. Rasa gurih yang ringan namun mengenyangkan membuat bakso mudah diterima semua kalangan.


Pengamat tersebut menekankan bahwa anggapan “perempuan paling suka bakso” sebenarnya adalah generalisasi yang lahir dari pengamatan sosial sehari-hari. Faktanya, laki-laki pun sama-sama menyukai bakso.


“Yang membedakan mungkin cara menikmatinya. Perempuan cenderung menjadikan makan bakso sebagai momen cerita dan kebersamaan, bukan sekadar mengisi perut,” ujarnya.


Bukan Sekadar Soal Rasa

Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan makanan sering kali berkaitan dengan psikologi, budaya, dan ruang sosial. Bakso bukan hanya bola daging dalam kuah kaldu. Ia adalah simbol kenyamanan, kebersamaan, dan kesederhanaan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.


Jadi, kalau banyak perempuan terlihat menyukai bakso, mungkin jawabannya sederhana: karena bakso memberi rasa hangat bukan hanya di perut, tapi juga di hati.

***
Tim Redaksi