Queensha.id — Sosial,
Korupsi di Indonesia sering digambarkan sebagai kejahatan besar bernilai triliunan rupiah. Namun realitas di lapangan menunjukkan wajah lain yang lebih berbahaya: korupsi kecil-kecilan yang dianggap wajar, bahkan dilakukan secara kolektif. Fenomena ini melahirkan istilah tidak resmi di masyarakat: “yang penting semua kebagian.”
Ironisnya, ketika seseorang tidak mendapat “jatah”, justru muncul protes, konflik internal, hingga laporan antar rekan kerja. Korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan berubah menjadi budaya sosial.
Korupsi Kecil yang Dianggap Normal
Di berbagai sektor, praktik korupsi tidak selalu berbentuk proyek besar. Banyak terjadi dalam bentuk:
1. Mark-up anggaran kecil,
2. Uang pelicin,
3. Fee kegiatan,
hingga manipulasi administrasi ringan.
Karena nominalnya tidak terlalu besar, pelaku sering merasa tidak bersalah. Bahkan muncul pembenaran moral yaitu “semua juga melakukan.” Padahal, para ahli menilai korupsi kecil justru menjadi akar dari korupsi besar.
“Dampak Positif” yang Sering Dipercaya Pelaku
Sebagian pelaku melihat korupsi berjamaah memiliki keuntungan internal, di antaranya:
1. Solidaritas kelompok meningkat
2. Semua pihak merasa diuntungkan sehingga konflik internal berkurang.
3. Loyalitas organisasi lebih kuat.
4. Sistem saling melindungi terbentuk karena semua memiliki kepentingan yang sama.
Distribusi keuntungan informal
Korupsi dianggap sebagai tambahan kesejahteraan di luar gaji resmi.
Namun para pakar menegaskan, manfaat tersebut hanya ilusi jangka pendek yang merusak sistem secara perlahan.
Dampak Negatif bagi Masyarakat Luas
Ketika korupsi menjadi budaya bersama, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar kerugian uang negara.
1. Pelayanan Publik Memburuk
Anggaran bocor berarti kualitas jalan, sekolah, rumah sakit, hingga bantuan sosial ikut menurun.
Masyarakat akhirnya membayar mahal atas pelayanan yang seharusnya mereka terima secara layak.
2. Orang Jujur Justru Tersingkir
Lingkungan koruptif membuat pegawai jujur dianggap pengganggu sistem.
Mereka yang menolak ikut sering dimutasi, dikucilkan, atau ditekan secara sosial.
3. Ketimpangan Ekonomi Semakin Lebar
Dana publik yang seharusnya untuk rakyat berpindah ke segelintir orang. Akibatnya:
kemiskinan sulit turun,
kesempatan usaha tidak adil,
kepercayaan publik terhadap negara melemah.
4. Hukuman Tidak Menimbulkan Efek Jera
Secara ekonomi, banyak kasus menunjukkan pelaku korupsi miliaran rupiah hanya menjalani hukuman beberapa tahun penjara.
Sebagian aset bahkan telah dialihkan kepada orang kepercayaan sebelum proses hukum berjalan. Dalam beberapa kasus, praktik suap di dalam sistem hukum membuat hukuman terasa ringan dibanding keuntungan yang diperoleh.
Situasi ini menciptakan persepsi berbahaya: risiko kecil, keuntungan besar.
Padahal Semua Tahu Korupsi Itu Dosa
Mayoritas pelaku sadar bahwa korupsi bertentangan dengan hukum dan nilai agama. Namun tekanan kebutuhan, gaya hidup, tuntutan keluarga, serta budaya lingkungan sering menjadi alasan pembenaran.
Korupsi akhirnya tidak lagi dilihat sebagai kejahatan moral, melainkan strategi bertahan hidup dan simbol keberhasilan sosial.
Pandangan Pengamat Sosial
Pengamat sosial terkemuka Indonesia, Musni Umar, menilai korupsi sulit diberantas karena telah berubah menjadi budaya kolektif, bukan sekadar perilaku individu.
Menurutnya, masalah utama bukan hanya lemahnya hukum, tetapi normalisasi sosial terhadap praktik korupsi. Ketika masyarakat memaklumi korupsi kecil, maka sistem besar pun ikut rusak dari dalam.
Bagaimana Cara Menghilangkan Budaya Korupsi?
Para pakar menilai pemberantasan korupsi tidak cukup hanya melalui penangkapan.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan:
1. Reformasi Sistem, Bukan Sekadar Individu
Transparansi anggaran dan digitalisasi pelayanan publik dapat mengurangi ruang transaksi ilegal.
2. Hukuman Ekonomi yang Lebih Berat
Perampasan aset hasil korupsi hingga ke jaringan keluarga dan kroni dinilai lebih efektif dibanding hukuman penjara singkat.
3. Perubahan Budaya Sosial
Korupsi harus kembali dipandang sebagai aib sosial, bukan prestasi tersembunyi.
4. Keteladanan Pemimpin
Budaya organisasi selalu mengikuti perilaku pemimpinnya. Integritas di level atas menjadi kunci perubahan di level bawah.
Pertaruhan Masa Depan Bangsa
Korupsi berjamaah mungkin terlihat menguntungkan sebagian orang dalam waktu singkat. Namun dalam jangka panjang, ia menggerogoti kepercayaan publik, merusak ekonomi, dan menghancurkan moral generasi berikutnya.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah korupsi itu salah, tetapi apakah bangsa ini siap berhenti menoleransi kesalahan yang dilakukan bersama-sama.
***
Tim Redaksi.