| Foto, tiga jenis menu MBG di wilayah kabupaten Jepara, dikutip dari unggahan akun Facebook Abdul Rosyid. |
Queensha.id – Jepara,
Sebuah kritik sosial bernuansa satire dari warga Jepara mendadak viral di media sosial. Unggahan akun Facebook milik Abdul Rosyid, warga Desa Mambak, Kecamatan Pakisaji, menarik perhatian warganet karena gaya penyampaiannya yang unik, jenaka, sekaligus menyentil realitas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alih-alih menyampaikan kritik secara frontal, Abdul Rosyid memilih cara berbeda: menyulap menu MBG menjadi kisah fantasi penuh humor ala legenda kuno.
Dalam unggahannya, Abdul Rosyid menulis narasi panjang bernuansa dramatis seolah sedang membacakan trailer film epik.
Ia menggambarkan menu MBG sebagai makanan sakral peninggalan peradaban kuno.
“Angin berhembus pelan. Kamera menyorot tiga batang yang tampak sederhana. Namun siapa sangka, di balik plastik bening itu tersimpan takdir semesta. Mereka menyebutnya… MBG.”
Narasi kemudian berlanjut semakin absurd namun menggelitik.
Menurut “legenda” versinya, MBG disebut sebagai Makanan Para Dewa Kuno, terdiri dari tiga batang ginseng berusia 1.000 tahun dari Dinasti Tang yang bahkan disebut tidak berani diarsipkan Google.
Tak berhenti di sana, ia juga menambahkan kisah tentang telur Raja Naga Biru yang bertapa selama 1.500 tahun di puncak Gunung Awan Takdir, hingga biji Teratai Hijau milik Dewi Kwan Im yang konon mampu meluluhkan hati mantan dan membuka rezeki.
“Aku kira itu cuma umbi biasa… ternyata itu warisan para dewa,” tulisnya, lengkap dengan narasi dramatis bak dokumenter legenda.
Unggahan itu ditutup dengan kalimat satire:
“Apakah MBG benar-benar makanan para dewa? Atau hanya ujian iman bagi rakyat jelata yang lapar menjelang magrib? Jawabannya… tunggu di episode berikutnya, " tulisnya, Rabu (25/2/2026).
Realita Menu yang Diterima
Di balik cerita fantasi tersebut, Abdul Rosyid sebenarnya memperlihatkan menu MBG yang ia terima, yakni:
1. Satu butir telur asin,
2. Satu bungkus kecil kacang hijau,
3. Tiga buah ubi berukuran kecil,
Perbandingan antara narasi “makanan dewa” dengan isi menu sederhana inilah yang membuat unggahan tersebut viral dan menuai beragam respons masyarakat.
Sebagian warganet menganggapnya sebagai kritik cerdas tanpa kemarahan, sementara lainnya melihatnya sebagai bentuk ekspresi humor masyarakat terhadap kebijakan publik.
Kritik Sosial Lewat Humor
Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat kini menggunakan satire sebagai cara menyampaikan aspirasi. Kritik tidak lagi selalu hadir dalam bentuk protes keras, tetapi melalui humor, cerita fiksi, hingga parodi kreatif yang mudah dipahami publik luas.
Pengamat sosial asal Jepara Purnomo Wardoyo menilai gaya komunikasi seperti ini justru efektif karena mampu mengundang diskusi tanpa memperkeruh suasana.
Di tengah pelaksanaan program MBG yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak sekolah dan kelompok rentan, muncul harapan agar pemerintah terus melakukan evaluasi kualitas menu, standar gizi, serta distribusi bantuan di lapangan.
Suara Rakyat yang Perlu Didengar
Unggahan Abdul Rosyid menjadi gambaran bahwa masyarakat tidak sekadar menerima program, tetapi juga ikut mengawasi melalui ruang publik digital.
Satire “Makanan Para Dewa” bukan sekadar lelucon internet. Ia mencerminkan harapan sederhana warga: bantuan pemerintah tetap berjalan, namun kualitas, kecukupan gizi, dan transparansi pelaksanaan benar-benar dirasakan manfaatnya.
Karena pada akhirnya, di balik humor dan cerita fantasi, tersimpan pesan serius dari masyarakat, bahwa kebijakan publik terbaik adalah yang mampu menjawab kebutuhan nyata rakyat.
***
Tim Redaksi.