Notification

×

Iklan

Iklan

Malam Nisfu Sya’ban: Saat Langit Dibuka, Doa Diperiksa, dan Hati Diperbaiki

Senin, 02 Februari 2026 | 10.53 WIB Last Updated 2026-02-02T03:55:05Z
Foto, malam Nifsu Sa'ban.



Queensha.id - Edukasi Islam,


Malam ini, Senin malam Selasa, 2–3 Februari, bertepatan dengan 15 Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah, sebuah malam yang oleh umat Islam dipandang istimewa. Di berbagai daerah, masjid dan rumah-rumah dipenuhi lantunan doa, zikir, serta pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda-beda.


Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ekspresi spiritual umat dalam menyambut salah satu malam yang diyakini sarat ampunan dan keberkahan.


Makna Tiga Kali Membaca Surat Yasin

Di tengah masyarakat, pembacaan Surat Yasin tiga kali selepas Maghrib pada malam Nisfu Sya’ban memiliki makna doa yang mendalam:


Yasin Pertama diniatkan agar diberi umur panjang yang berkah, istiqamah dalam kebaikan, dan kelak wafat dalam keadaan husnul khatimah.


Yasin Kedua diniatkan agar dijauhkan dari musibah, bala, dan keburukan hidup, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.


Yasin Ketiga diniatkan agar diberi rezeki yang halal dan barokah, serta disyukuri dan dimanfaatkan di jalan yang diridai Allah SWT.


Ulama menegaskan, niat-niat tersebut bukanlah jaminan instan, melainkan permohonan batin agar hidup diarahkan pada jalan yang lebih lurus dan bermakna.


Nisfu Sya’ban dalam Pandangan Islam

Dalam khazanah Islam, Nisfu Sya’ban dikenal sebagai malam ketika Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba yang memohon dengan tulus. Banyak ulama klasik menjelaskan bahwa pada malam ini, manusia dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, doa, dan muhasabah diri.


Meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kekhususan ibadah tertentu, mayoritas sepakat bahwa memperbanyak amal saleh di malam Nisfu Sya’ban adalah perbuatan yang dianjurkan, selama tidak diyakini sebagai kewajiban mutlak.



Ulama-ulama besar di Indonesia secara umum memandang malam Nisfu Sya’ban sebagai momentum spiritual, bukan ajang perdebatan fiqh semata.


Mereka menekankan tiga hal utama:

Pertama, Nisfu Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk membersihkan hati dari dendam dan permusuhan, karena ampunan Allah luas, tetapi terhalang oleh kebencian antarsesama.


Kedua, amalan seperti membaca Yasin, doa bersama, dan zikir adalah wasilah mendekatkan diri kepada Allah, selama dilakukan dengan niat ikhlas dan tidak mengklaim kebenaran tunggal.


Ketiga, esensi Nisfu Sya’ban bukan pada banyaknya bacaan, tetapi pada perubahan sikap setelahnya: lebih jujur, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab dalam hidup.
Para ulama juga mengingatkan agar umat tidak terjebak pada formalitas ritual semata, tetapi menjadikan malam ini sebagai titik balik memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.


Bukan Sekadar Malam Doa, Tapi Malam Kesadaran

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh kegaduhan, Nisfu Sya’ban hadir sebagai malam jeda dan di saat manusia diajak menundukkan ego, menata niat, dan mengingat bahwa hidup bukan hanya soal dunia, tetapi juga akhirat.


Malam ini bukan tentang siapa yang paling khusyuk terlihat, melainkan siapa yang paling jujur mengakui kekurangan dirinya di hadapan Allah SWT.


Karena pada akhirnya, doa yang paling kuat bukan yang paling panjang, tetapi yang paling tulus keluar dari hati.



Perlu diketahui bersama, malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah jatuh pada Senin malam Selasa, tanggal 2–3 Februari 2026. Amalan-amalan seperti membaca Surat Yasin tiga kali, berdoa, dan memperbanyak istighfar dianjurkan dilakukan setelah salat Maghrib hingga menjelang Subuh.


Penegasan waktu ini penting agar masyarakat tidak keliru dalam menentukan malam Nisfu Sya’ban, mengingat dalam penanggalan Islam pergantian hari dimulai sejak terbenamnya matahari, bukan tengah malam.


Dengan memahami waktu yang tepat, diharapkan umat Islam dapat mengisi malam 2–3 Februari 2026 tersebut dengan ibadah yang lebih khusyuk, terarah, dan penuh kesadaran spiritual.


***
Tim Redaksi.