Notification

×

Iklan

Iklan

Miras Oplosan Diduga Jadi “Pembunuh Senyap” di Jepara, Apa Sebenarnya yang Diminum Para Korban?

Selasa, 10 Februari 2026 | 20.47 WIB Last Updated 2026-02-10T13:57:55Z
Foto, lokasi kejadian pesta miras yang mengakibatkan kematian.


Queensha.id – Jepara,


Tragedi pesta minuman keras di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, yang menewaskan lima orang warga, masih menyisakan satu pertanyaan besar: jenis minuman apa yang diminum hingga mematikan?


Hingga Selasa (10/2/2026), polisi masih menyelidiki kandungan minuman yang dikonsumsi para korban. Namun sejumlah temuan awal mengarah pada dugaan kuat bahwa minuman yang diminum merupakan miras oplosan dengan kandungan berbahaya.


Miras Berbau Aneh, Diduga Oplosan

Dari hasil penelusuran awal, minuman yang dikonsumsi para korban dilaporkan memiliki bau tidak wajar, bahkan disebut berbau seperti sabun. Temuan ini menguatkan dugaan adanya campuran zat kimia berbahaya di dalam minuman tersebut.


Kasus ini terjadi di sebuah tempat hiburan semi-karaoke di Desa Suwawal Timur. Para korban berpesta miras pada akhir pekan, lalu mulai mengalami gejala serius hingga meninggal secara beruntun pada Senin (9/2/2026) dan Selasa (10/2/2026).


Polisi kini memeriksa penjual miras yang diduga menyediakan minuman tersebut serta menelusuri asal bahan campuran yang digunakan.


Apa Itu Miras Oplosan dan Kenapa Bisa Mematikan?


Di Indonesia, banyak kasus kematian akibat pesta miras berkaitan dengan alkohol oplosan, yakni minuman yang dicampur dari berbagai bahan tanpa standar keamanan.


Salah satu zat paling berbahaya yang sering ditemukan dalam miras oplosan adalah metanol. Zat ini sebenarnya bukan untuk diminum manusia karena biasa dipakai untuk bahan bakar, pelarut, atau cairan industri.


Metanol sering dicampur dengan alkohol konsumsi (etanol) untuk menekan biaya produksi. Padahal, sedikit saja metanol yang masuk ke tubuh bisa berakibat fatal. 


Menurut literatur medis, keracunan metanol dapat menyebabkan:

1. Gangguan pernapasan dan kesadaran,

2. Kerusakan saraf mata hingga kebutaan,

3. Asidosis metabolik (keracunan berat dalam darah),

Sehingga menimbulkan kematian dalam waktu cepat.


Dalam berbagai tragedi miras oplosan di Indonesia, kandungan metanol berlebih kerap menjadi penyebab utama kematian massal.


Pola Kematian Beruntun

Pada kasus Jepara, korban meninggal tidak sekaligus, melainkan beruntun dalam dua hari. Pola ini sering terjadi pada keracunan metanol merupakan gejala awal muncul beberapa jam hingga satu hari setelah konsumsi, lalu kondisi korban tiba-tiba memburuk.


Fenomena tersebut memperkuat dugaan bahwa minuman yang dikonsumsi bukan sekadar alkohol biasa, melainkan minuman campuran berbahaya dengan kadar racun tinggi.


Polisi Tunggu Hasil Lab

Hingga kini, pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan jenis dan kandungan minuman yang diminum para korban.


Namun dari pengalaman berbagai kasus serupa di Indonesia, tragedi seperti ini hampir selalu berkaitan dengan miras oplosan beracun yang dijual tanpa izin dan tanpa standar kesehatan.


Tragedi di Jepara menjadi pengingat keras bahwa minuman murah tanpa label dan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi racun mematikan. Bagi aparat, kasus ini bukan sekadar pesta miras biasa, tetapi dugaan peredaran minuman ilegal berbahaya yang berujung pada hilangnya lima nyawa dalam hitungan hari.


***
Tim Redaksi.