Notification

×

Iklan

Iklan

Warung Jamu Oplosan 24 Jam di Suwawal Timur Jepara Sediakan Karaoke: 10 Tahun Beroperasi, 5 Nyawa Melayang

Selasa, 10 Februari 2026 | 22.46 WIB Last Updated 2026-02-10T15:49:13Z
Foto, tertumpuk sejumlah botol minuman beralkohol berbagai merek tampak diletakkan di samping warung milik R di RT 3/RW 3, Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, yang kini telah dipasangi garis polisi pasca insiden jamu oplosan maut yang menewaskan lima warga dan membuat tiga lainnya kritis.



Queensha.id - Jepara,


Sebuah warung jamu gingseng oplosan di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, yang diduga menjadi sumber minuman maut hingga menewaskan lima orang dan membuat tiga lainnya kritis, ternyata telah beroperasi lebih dari satu dekade. 


Usaha tersebut disebut-sebut berkembang tanpa pengawasan ketat, bahkan dilengkapi fasilitas karaoke dan penjualan minuman beralkohol.


Warung milik seorang pria berinisial R, warga RT 3/RW 3 Desa Suwawal Timur, awalnya dikenal sebagai tempat menjual jamu. 


Namun dalam beberapa tahun terakhir, tempat tersebut diduga berubah menjadi lokasi hiburan malam sederhana yang menyediakan minuman keras dan layanan karaoke.


Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar, bangunan warung berada di bagian belakang rumah pemilik. Dapur atau bar berdiri dengan atap sederhana berbahan asbes, sementara ruang karaoke sudah berupa bangunan permanen sepanjang sekitar 15 meter dan lebar 4 meter dengan pintu kaca. 


Di luar bangunan, terdapat tiga set meja panjang dan kursi untuk pengunjung.
Lokasi warung terbilang padat permukiman. Di satu sisi berbatasan langsung dengan kebun warga, sementara di sisi lain berdekatan dengan kandang kambing milik tetangga. 


Meski demikian, tempat tersebut disebut beroperasi setiap hari selama 24 jam. Suara karaoke yang kerap terdengar hingga larut malam juga sudah lama menjadi keluhan warga sekitar.


Harga jamu di warung tersebut relatif murah, mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per gelas. Jika dibawa pulang dalam botol 1,5 liter, harganya sekitar Rp40 ribu.


Mayoritas pelanggan berasal dari wilayah sekitar, meski ada juga yang datang dari luar kecamatan.


Selain jamu, warung itu juga diduga menyediakan minuman beralkohol berbagai merek. Di lokasi kejadian, aparat masih menemukan tumpukan botol minuman keras, termasuk merek Anker. Bahkan, jika pengunjung ingin bernyanyi, pengelola disebut dapat memanggil pemandu lagu atau LC.


Pasca insiden yang menewaskan lima orang tersebut, kompleks usaha kini telah dipasangi garis polisi. Aktivitas warung berhenti total. 


Namun, di area belakang bangunan terlihat tumpukan batu pondasi dan bata ringan, serta sebagian tanah yang sudah digali. R disebut berencana memperluas usaha sebelum peristiwa maut terjadi.


Warga mengaku, tragedi kali ini bukan kejadian pertama yang berkaitan dengan tempat tersebut. Sekitar satu tahun lalu, seorang pelanggan yang baru saja minum dari warung itu dilaporkan mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dan meninggal dunia.


R juga diketahui pernah menjalankan usaha serupa di kawasan Pantai Pungkruk sebelum akhirnya memusatkan kegiatan di warung belakang rumahnya di Suwawal Timur.


Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan aparat penegak hukum. Polisi masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kandungan minuman yang dikonsumsi para korban, dugaan peredaran miras oplosan, serta izin operasional tempat usaha tersebut. 


Tragedi ini kembali memunculkan pertanyaan serius tentang pengawasan minuman keras ilegal dan potensi bahaya yang mengintai di balik warung-warung jamu berkedok hiburan malam.

***
Sumber: RP.
Tim Redaksi.