Notification

×

Iklan

Iklan

Orang Tua Durhaka: Ketika Anak Dizalimi, Doa Tak Lagi Naik ke Langit

Minggu, 01 Februari 2026 | 10.23 WIB Last Updated 2026-02-01T03:25:13Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook. (Edukasi Sosial)

Queensha.id - Edukasi Sosial,


Kasih sayang orang tua sering dianggap mutlak dan tak mungkin salah. Namun realitas di lapangan menunjukkan, tidak semua luka berasal dari luar rumah. Ada luka yang justru tumbuh dari rahim keluarga sendiri dari orang tua yang gagal berlaku adil, gagal mencintai, dan gagal mendidik dengan hati.


Fenomena orang tua yang bersikap durhaka kepada anaknya kian sering disuarakan, meski masih dianggap tabu. Padahal dalam pandangan Islam dan kajian sosial, kezaliman orang tua terhadap anak adalah pelanggaran serius, bukan perkara sepele.


Ketidakadilan yang Melahirkan Luka Seumur Hidup

Bentuk kedurhakaan orang tua kerap hadir secara halus namun menghancurkan. Di antaranya adalah membedakan cinta antara anak miskin dan anak yang kaya. Anak yang mapan secara ekonomi dipuji dan dielu-elukan, sementara anak yang hidup pas-pasan dipandang sebelah mata.


Tak jarang pula orang tua menghina, merendahkan, bahkan menyumpahi anaknya sendiri dengan kata-kata kasar. Dalam banyak kasus, ucapan itu terus terngiang hingga anak dewasa, membentuk luka batin yang sulit disembuhkan.


Ironisnya, orang tua semacam ini sering menuntut dihormati, namun lupa memberi kasih sayang. Mereka merasa selalu benar, meski telah menyakiti hati anak, menutup ruang dialog, dan menolak introspeksi.
Lebih menyedihkan lagi, ada orang tua yang lebih menyayangi anak yang memberi uang, dibanding anak yang setia membantu dengan tenaga, waktu, dan pengorbanan. Ukuran cinta bergeser dari keikhlasan menjadi nominal.


Pandangan Ulama: Orang Tua Bisa Berdosa Besar

Ulama terkemuka Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam berbagai kajiannya menegaskan bahwa Islam sangat menekankan keadilan dalam keluarga. Menurutnya, orang tua yang berlaku zalim kepada anak telah melanggar amanah Allah.


“Orang tua bukan hanya berhak dihormati, tetapi juga berkewajiban mencintai, melindungi, dan berlaku adil. Ketika kezaliman terjadi, itu bukan lagi pendidikan, melainkan dosa,” tegas Quraish Shihab dalam salah satu tafsirnya tentang keluarga.


Sementara itu, ulama kharismatik asal Rembang, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menekankan bahwa doa orang tua bisa menjadi musibah jika keluar dari hati yang penuh amarah dan ketidakadilan.


“Ucapan orang tua itu berat di sisi Allah. Kalau keluar dalam bentuk sumpah, hinaan, atau kutukan, bisa menjadi sebab kesengsaraan anak dan juga orang tuanya sendiri,” ujar Gus Baha dalam sebuah pengajian.


Dalam literatur keislaman bahkan disebutkan, orang tua yang zalim kepada anaknya termasuk golongan yang akan dimintai pertanggungjawaban berat di akhirat, karena anak adalah titipan, bukan milik mutlak.


Analisis Sosial: Kekerasan Emosional yang Dianggap Normal

Pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai praktik ini sebagai bentuk kekerasan emosional yang dilegalkan budaya.


“Di masyarakat kita, orang tua sering merasa kebal kritik. Anak yang melawan dianggap durhaka, padahal sedang bertahan dari luka batin. Ini warisan pola asuh otoriter yang belum selesai,” kata Purnomo, Senin (1/2/2026).


Menurutnya, banyak konflik keluarga bermula dari relasi kuasa yang timpang, di mana orang tua menuntut hormat tanpa empati, dan menganggap anak sebagai investasi masa tua.


“Kalau cinta diukur dari uang, maka keluarga berubah jadi transaksi. Anak yang miskin disingkirkan, anak yang kaya dipeluk. Ini bukan nilai keluarga, tapi degradasi moral,” tegasnya.


Refleksi untuk Masyarakat

Islam tidak hanya mengajarkan anak untuk berbakti, tetapi juga mengajarkan orang tua untuk takut berbuat zalim. Sebab, luka batin anak yang terpendam bisa berubah menjadi doa sunyi dan doa orang yang terzalimi, kata Rasulullah, tidak ada penghalang antara dirinya dan Allah.


Sudah saatnya masyarakat berani mengakui bahwa orang tua pun bisa salah, dan keadilan dalam keluarga adalah fondasi utama keberkahan hidup.


***
Tim Redaksi.