Notification

×

Iklan

Iklan

Viral Dituding Begal, Yoyok Akhirnya Buka Suara: Klarifikasi Warga Dermolo Jepara Ungkap Fakta di Balik Video Kejar-kejaran

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23.15 WIB Last Updated 2026-02-21T16:17:36Z
Foto, (tengah) Yoyok, bersama warga sekitar dan tokoh masyarakat sekitar dan kepolisian setempat.


Queensha.id — Jepara,


Setelah berbulan-bulan menjadi perbincangan hangat di media sosial, Andi Kristian alias Yoyok (42), warga Desa Dermolo RT 04 RW 01, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, akhirnya muncul ke publik memberikan klarifikasi resmi atas video viral yang sempat menyeret namanya dalam dugaan aksi begal.


Nama Yoyok sebelumnya ramai disebut-sebut setelah unggahan akun media sosial Alex Jelex pada Februari 2026 memicu kekhawatiran masyarakat terkait dugaan komplotan preman yang beroperasi di jalur Kembang–Bangsri.


Namun, Yoyok menegaskan bahwa narasi tersebut tidak sesuai dengan fakta kejadian.


Bermula dari Lubang Jalan

Dalam keterangannya pada 21 Juni 2026, Yoyok menjelaskan bahwa peristiwa yang terekam video sebenarnya terjadi pada 7 Februari 2026 di Jalan Lingkar Wedelan, Bangsri.


Saat itu, ia bersama rekannya, Totok, sedang mengendarai mobil Carry menuju arah Bangsri. Insiden bermula ketika kendaraan mereka harus berhenti mendadak karena menghindari lubang besar di jalan.


“Kendaraan di belakang kami posisinya sangat mepet, akhirnya mobil kami justru masuk ke lubang. Karena itu kami mengejar kendaraan tersebut,” ujar Yoyok, dikutip dari unggahan akun Facebook Suara Jepara, Sabtu (21/2).


Ia menekankan bahwa aksi pengejaran tersebut bukan tindakan kriminal, melainkan upaya meminta pertanggungjawaban kepada pengendara lain.


“Kami mengejar bukan untuk membegal. Kami hanya ingin meminta kejelasan karena posisi kendaraan sangat membahayakan,” tambahnya.


Narasi Preman Mabuk Dibantah

Video yang beredar di media sosial sebelumnya memunculkan berbagai spekulasi liar. Sebagian warganet bahkan menyebut adanya modus begal “pepet-potong” jalan di wilayah tersebut.


Tak sedikit komentar yang menuding Yoyok sebagai bagian dari kelompok preman, bahkan muncul narasi bahwa dirinya berada di bawah pengaruh alkohol saat kejadian.


Yoyok membantah seluruh tuduhan tersebut.


Ia mengakui situasi saat itu sempat memanas dan terjadi tindakan emosional yang terekam kamera, namun menegaskan tidak ada niat melakukan perampasan ataupun pemerasan.


“Saya meminta maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang terjadi. Situasi saat itu memang panas, tapi bukan tindakan kriminal seperti yang dituduhkan,” katanya.


Dampak Media Sosial dan Persepsi Publik

Kasus ini kembali menjadi contoh bagaimana sebuah potongan video di media sosial dapat membentuk opini publik secara cepat sebelum fakta lengkap terungkap.


Dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas dan memunculkan rasa takut di kalangan pengguna jalan wilayah Kembang dan Bangsri.


Pengamat komunikasi sosial di Jepara menilai fenomena ini menunjukkan kuatnya pengaruh media sosial dalam membangun stigma.


“Publik sering menilai hanya dari potongan video tanpa konteks. Padahal setiap peristiwa memiliki dua sisi cerita,” ujar salah satu pengamat sosial lokal.


Menurutnya, klarifikasi terbuka seperti yang dilakukan Yoyok menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat sekaligus mengedukasi publik agar lebih bijak menerima informasi digital.


Status Laporan Polisi

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait kelanjutan laporan yang sebelumnya disebut telah masuk ke pihak kepolisian oleh pelapor.


Yoyok berharap klarifikasi yang disampaikan dapat menjadi titik terang agar masyarakat tidak lagi salah memahami kejadian tersebut.


“Saya ingin masyarakat melihat kejadian ini secara utuh dan tidak langsung menilai buruk,” tuturnya.


Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era media sosial, kecepatan informasi harus diimbangi dengan kehati-hatian dalam menyimpulkan sebuah peristiwa.


***
Tim Redaksi.